Inilah Peran Ayah Untuk Anak-anak

04 Jul 2017

Ayah memikul kewajiban untuk menghidupi seluruh anggota keluarganya. Namun bukan menjadi alasan, ayah terlampau sibuk bekerja sehingga enggan meluangkan waktu untuk keluarga dan memerhatikan kebutuhan psikologis anak-anaknya.

Belakangan sering sekali mendengar atau membaca berbagai pesan mengenai pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak, ya sebab stigma menjadi ayah seringkali hanya dikaitkan dengan tugasnya bekerja dan menafkahi keluarga, tanpa harus tahu apa pun yang terjadi di rumah. Padahal, idealnya ayah juga berperan aktif dalam pengasuhan anak.

Banyak sekali penelitian mengenai hal ini. Misalnya, seperti yang tercantum dalam laman Father Involvement Research Alliance (FIRA), bayi yang ayahnya aktif terlibat dalam pengasuhan (terlihat dari banyaknya interaksi, termasuk kualitas bermain dan aktivitas caregiving) lebih kompeten secara kognitif pada usia 6 bulan. Fungsi kognitif ini berlanjut lebih tinggi pada usia 1 tahun, kemampuan pemecahan masalah lebih baik pada usia balita, dan memiliki IQ yang lebih tinggi pada usia 3 tahun.

Seperti tertulis didalam artikel The Role of the Father in Child Development, tulisan Michael E. Lamb, Profesor psikologi dari The University of Cambridge, anak laki-laki yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah akan mengalami hambatan dalam perkembangan identitas gender dan pemahaman terkait peran sebagai laki-laki, performa akademis di sekolah, penyesuaian diri serta kesulitan mengontrol kemarahan.

Ketika ayah tampil sebagai sosok yang pasif, tidak sensitif dan tidak terlibat dalam pengasuhan, maka anak perempuan akan mengembangkan hubungan yang sulit dengan laki-laki. Bahkan tidak nyaman berinteraksi dengan anak laki-laki juga ketika dewasa akan sulit menjalin hubungan harmonis dengan pasangannya.

E. Lamb pun menulis, penelitian oleh Carlson menyimpulkan bahwa para remaja memiliki keinginan agar sosok ayah dapat melakukan hal-hal berikut ini: Hadir di acara penting dan meluangkan waktunya berduaan dengan anak, menjalin kedekatan emosional dengan ayah, responsif ketika anak sedang mengungkapkan pendapat kepada ayah dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan sudut pandang anak. Jadi, meski terkesan cuek, ternyata harapan remaja pun sangat besar akan hadirnya sosok ayah.

Semakin sering ayah terlibat, semakin besar pula sensitivitas ayah akan kebutuhan dan keadaan anak. Makin sensitif akan kebutuhan anak, makin mahir dalam mengatasi setiap perilaku dan perkembangan anak, sehingga makin sedikit konflik dengan anak. Anak pun semakin mudah mendengarkan ayahnya.

Berat? Ya pasti. Inilah gunanya berpartner dengan istri dalam pengasuhan anak. Yang penting, koneksi antara ayah dan anak terus dibentuk setiap harinya. Pengaturan waktu dan merasa bertanggung jawab, adalah kunci penting untuk menjalani peran besar ini.